Jangan membuat dirimu rendah dimata orang lain karna terserang penyakit PLAGIAT maupun EPIGON, hargai hak cipta dan percaya pada kekuatan bahasa dan hati sendiri!

Kamis, 29 Agustus 2013

Seandainya (Prolog)



Untuk bertepuk tangan, kita memerlukan dua tangan agar dapat berbunyi. Begitupun Cinta, ia memerlukan dua hati agar dapat membentuk cerita indah yang terkenang hingga akhir waktu.


   V

 


A

ku terbangun dari tidur lelapku semalam dan menarik nafas panjang untuk mengawali hari ini di atas tempat tidurku. Ini hari pertamaku sekolah di SMA Harapan Nusa. Aku tak ingin melewatkan hari pertama yang menurut banyak orang merupakan hari bersejarah yang akan teringat hingga tua nanti.
Aku melirik jam bergambar menara Eiffel yang menggantung di dinding kamar, “Wah masih jam setengah enam” ucapku dengan  gembira. Aku melangkah dengan semangat menuju balkon yang ada di depan kamarku, begitu aku membuka pintu, angin beraroma embun langsung menerpa pipiku, menciptakan kekuatan yang tak dapat dilukiskan dengan apapun. Aku melihat sekelilingku, langit masih gelap, dan di kejauhan terlihat lampu berwarna-warni yang terlihat kontras dengan langit gelap. Panorama yang paling aku sukai, dan itu sudah menjadi rutinitas setiap pagiku untuk melihat langit yang amat indah itu.
Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar, mengapa di saat panorama yang indah ini aku malah mengingatnya? Mengingat segala kenangan yang pernah tercipta antara aku dengannya.
“Lupakan dia Nadiane, dia tak pantas untuk dikenang.” Ucapku menegarkan diri sendiri. Ya, dia memang tidak pantas untuk dikenang, mantan yang hanya bisa menyakiti itu memang tak punya hak untuk masuk kembali ke dalam pikiranku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar