“Untuk bertepuk tangan, kita memerlukan dua tangan agar dapat berbunyi. Begitupun Cinta, ia memerlukan dua hati agar dapat membentuk cerita indah yang terkenang hingga akhir waktu.”
|
V
|
A
|
ku terbangun
dari tidur lelapku semalam dan menarik nafas panjang untuk mengawali hari ini
di atas tempat tidurku. Ini hari pertamaku sekolah di SMA Harapan Nusa. Aku tak
ingin melewatkan hari pertama yang menurut banyak orang merupakan hari
bersejarah yang akan teringat hingga tua nanti.
Aku melirik jam bergambar menara
Eiffel yang menggantung di dinding kamar, “Wah masih jam setengah enam” ucapku
dengan gembira. Aku melangkah dengan
semangat menuju balkon yang ada di depan kamarku, begitu aku membuka pintu,
angin beraroma embun langsung menerpa pipiku, menciptakan kekuatan yang tak
dapat dilukiskan dengan apapun. Aku melihat sekelilingku, langit masih gelap,
dan di kejauhan terlihat lampu berwarna-warni yang terlihat kontras dengan
langit gelap. Panorama yang paling aku sukai, dan itu sudah menjadi rutinitas
setiap pagiku untuk melihat langit yang amat indah itu.
Aku menarik nafas panjang dan
menghembuskannya dengan kasar, mengapa di saat panorama yang indah ini aku
malah mengingatnya? Mengingat segala kenangan yang pernah tercipta antara aku
dengannya.
“Lupakan dia Nadiane, dia tak
pantas untuk dikenang.” Ucapku menegarkan diri sendiri. Ya, dia memang tidak
pantas untuk dikenang, mantan yang hanya bisa menyakiti itu memang tak punya
hak untuk masuk kembali ke dalam pikiranku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar